Kamis, 11 Juli 2013

Komedi Betawi: Lenong Rekacipta



Syaiful Amri menebar senyum ke semua orang, dan tak lelah mengucap terima kasih  kepada rekan yang menyampaikan selamat atas sukses Komedi Betawi (Kombet)  menampilkan lakon Entong Gendut dari Condet, 28 Juni 2013 lalu di halaman parkir Taman Ismail Marzuki (TIM).

Sesekali anak Betawi Tanah Abang ini berpose di depan panggung atas permintaan fotografer media, menjawab pertanyaan reporter, atau membuat janji ke wartawan yang ingin menggali ‘isi kepala’-nya. Tidak jauh dari tempatnya, sekitar seribu orang beranjak pulang, dan semua panjak – istilah Betawi untuk pekerja lenong – sibuk berbenah.

“Alhamdulillah! Penonton bertahan dan menikmati sajian kami,” ujar sutradara pementasan dan pendiri Kombet itu kepada Republika.

Bukan kali pertama Kombet mengenyam sukses. Tahun lalu, Kombet menyedot banyak penonton saat menampilkan Si Ayub dari Teluk Naga di Graha Bhakti Budaya TIM. Tahun 2009, Kombet juga sukses meramaikan Jakarnaval di Monas.

Kombet adalah lenong rekacipta, dengan Syaiful Amri sebagai arsiteknya. Tanpa melanggar pakem lenong, Bang Syaiful – demikian lelaki kelahiran 26 November 1963 itu dipanggil rekan-rekannya – memasukan pengaruh teater Barat, menambahkan instrument modern pada permainan musik, memperkaya dialog dengan memunculkan isu kekinian, sarat humor, dan tidak melulu mengambil cerita dari masa lalu.

“Semua ini saya lakukan sejak 1998,” ujar alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang lahir dari keluarga anti-berkesenian. “Tujuannya, menghindarkan lenong dari kepunahan.”

Upaya merekacipta lenong pernah terjadi di masyarakat Betawi. Menurut Prof Yasmin Z Shahab, lenong adalah produk Betawi pinggiran tidak bisa diterima masyarakat Betawi tengah. Sejumlah seniman merekrut orang Betawi tengah menjadi panjak, dan memasukan unsur agama ke dalam dialog, yang membuat lenong diterima masyarakat Betawi tengah.

Namun rekacipta itu tidak menyentuh perubahan artistik. Lenong, dimainkan Betawi pinggiran atau tengah, tetap sama. Yang membedakan adalah stigma bahwa lenong Betawi tengah lebih relijius, dan lenong pinggiran cenderung sekuler.


Tanpa rekacipta artistik, menurut Syaiful, lenong akan bernasib sama dengan Topeng Betawi. “Dari dulu sampai saat ini, Topeng Betawi malulu bercerita soal Si Jantuk yang bertengkar dengan istrinya akibat kepala ikan peda dimakan kucing,” ujar Syaiful.

Saat Topeng Betawi tumbuh, ikan peda mungkin favorit. Saat ini, generasi muda Betawi mungkin tidak lagi mengenal ikan peda. Akibatnya, Topeng Betawi terasing dari masyarakatnya dan memfosil.

“Lenong tidak boleh seperti itu,” lanjut Syaiful.

Namun Syaiful membantah asumsi bahwa lenong tradisi tidak layak lagi dipertahankan. Menurutnya, lenong tradisi tidak bisa lagi melulu mengangkat cerita masa lalu, tapi harus menyesuaikan diri. Lenong adalah tradisi lisan. Sebagai tradisi lisan, lenong tidak boleh dibingkai dan dikotak-kotakan.

Inilah, demikian Syaiful, yang tidak disadari kebanyakan lenong tradisi. Seolah, yang melanggar pakem lenong tidak bisa disebut lenong. Atau, lenong harus dimainkan sesuai pakem, dan melanggar pakem adalah ‘dosa’.

Syaiful berusaha menularkan pemikirannya ke lebih 50 kelompok lenong di sekujur Jakarta. Caranya, menyelenggarakan workshop, atau merekrut satu atau dua panjak dari beberapa komunitas untuk terlibat dalam produksinya. Saat menggelar Entong Gendut dari Condet, Syaiful merekrut Bachtiar – tokoh Sanggar Si Pitung – sebagai pemain.

“Responnya sangat bagus, karena generasi muda Betawi yang mencintai lenong selalu ingin bergerak,” ujarnya. “Tapi anak-anak muda yang bermain dengan senior sering ditakuti-takuti tidak boleh melanggar pakem.”

Memang tidak mudah melakukan perubahan. Syaiful, lewat Kombet-nya, butuh 15 tahun untuk melihat terjadinya perubahan di sejumlah grup lenong yang pernah mengikuti workshop dan terlibat dalam pergelarannya.

“Mereka mungkin masih banyak yang mengambil cerita lama, tapi dialog lebih kaya dengan memunculkan isu aktual,” ujar pria yang oleh orang tuanya diharapkan menjadi guru ngaji.

Syaiful berusaha menghindari konflik dengan semua panjak lenong yang menolak perubahan. Ia bahkah menaruh hormat setinggi-tingginya, sambil terus menularkan virus perubahan.

Penggunaan nama Komedi Betawi, atau Kombet, juga salah satu upaya menghindari konflik. “Orang Betawi itu kan ‘cegukan’, alias gampang ngambek,” ujarnya. “Jika saya pakai nama lenong, dan bukan Kombet, orang-orang lenong tradisi akan mengecam, dengan mengatakan itu bukan lenong.”

Pilihan tidak menggunakan nama lenong dirasa cukup ampuh. Di satu sisi, Kombet terhindar dari kecaman. Di sisi lain, kebanyakan orang tetap akan mengidentifikasi Kombet sebagai lenong, meski dengan banyak perubahan.

Syaiful tidak hanya menjadikan Kombet sebagai sarana menyalurkan libido untuk mengubah lenong. Ia menjadikan Kombet sebagai laboratorium untuk membuktikan teori bahwa lenong harus melewati rekacipta artistik untuk menyesuaikan diri dengan zaman, tapi dimainkan dengan semangat teater rakyat Betawi.

Adaptasi dengan zaman tidak bisa dilakukan secara radikal karena akan menghilangkan esensi lenong sebagai kesenian tradisional, tapi lewat reproduksi struktur dan persentuhan itensif antara pelaku lenong tradisi dan teater modern.

“Lewat Kombet saya melakukan penelitian tentang rekacipta lenong, dan menawarkan solusi bagaimana kesenian ini mempertahankan diri,” ujarnya. “Saya akan menampilkan Kombet di Universitas Indonesia (UI), sebagai bagian dari desertasi saya untuk meraih gelar doktor.”

Minggu, 07 Juli 2013

Lenong Betawi



Tanpa publikasi sama sekali, Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat menggelar Festival Lenong, pertengahan Juni 2013 lalu. Ini bukan acara tunggal, tapi bagian dari acara tahunan Sentra Barat Fair yang digelar Pemprov Jakarta Barat.

Sebanyak 13 kelompok lenong di Jakarta Barat tampil dalam festival itu. Sebagian membawakan kisah jagoan masa lalu, lainnya menampilkan cerita kekinian.

Hampir seluruh panjak-nya; aktor, aktris, dan pemain musik gambang kromong, adalah generasi muda Betawi. Sebagian kelompok menggunakan sutradara, lainnya tidak.

Sepanjang festival, sebagian besar bangku di depan panggung tak terisi. Sebagian lainnya diisi oleh anggota kelompok lenong yang selesai tampil, dan ingin menyaksikan lawan-lawannya.

Festival seolah hanya untuk anggota kelompok lenong, bukan untuk masyarakat umum. Bahkan H Fatahillah, walikota Jakarta Barat yang asli Betawi, sama sekali tidak tahu ada Festival Lenong di belakang kantornya.

Usai festival, Syaiful Amri -- salah satu juri yang sedang sedang mempersiapkan penelitian tentang lenong – memberikan evaluasinya sebelum mengumumkan pemenang. Ia mengkritik penggunaan bahasa yang rancu. Juri lainnya mempertanyakan peran sutradara.

Penilaian tak kalah menarik diutarakan seorang penonton. “Sebagian besar peserta festival nggak ngerti lenong,” ujar lelaki usia 55 tahun itu. “Pemain lenong itu seolah tidak mewariskan tradisi lenong asli.”


Budaya Pinggiran


Ada dua genre lenong; denes dan preman. Keduanya mencapai kemapanan bentuk tahun 1920. Lenong denes berkembang di masyarakat pribumi kelas atas Batavia; utamanya pegawai pangreh praja, menggunakan bahasa Melayu tinggi, serta pakaian kebesaran kaum feodal.

Lenong preman, menurut Prof Yasmin Z Shahab, berkembang di masyarakat pinggiran. Pinggiran adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah permukiman Betawi yang terkena pengaruh Cina Benteng (perbatasan Jakarta-Tangerang), dan Sunda (perbatasan Jakarta-Jawa Barat).

Lenong preman menggunakan bahasa Betawi rendahan, dengan pengaruh bahasa Tionghoa yang kental. Salah satunya penggunaan kata ‘gua’ dan ‘lu’  untuk menyebut saya dan kamu. Gua, sering pula disebut ‘gue’, dan lu berasal dari kata dalam dialek Hokkian (selatan); owe dan lu.

Bachtiar, pendiri dan pengelola Sanggar Si Pitung di Rawa Belong, mengatakan ciri lain lenong preman pinggiran adalah penggunaan huruf vokal ‘a’ di setiap akhir kata. Misal, ‘ngapa’, ‘mana’, ‘siapa’, dengan pengucapan suku kata terakhir dipanjangkan.

Lenong preman masyarakat pinggiran tidak mengenal teks tertulis. Sutradara hanya sekadar menyampaikan sinopsis secara lisan, dan menentukan aktor dan aktris yang akan memainkan tokoh-tokoh dalam cerita. Aktor dan aktris, utama atau pendukung, mengandalkan improvisasi.

Yang paling khas dari lenong preman adalah selalu ada perkelahian, karena cerita yang dimainkan tentang jawara -- jagoan kampung dalam sistem kekuasaan masyarakat Betawi – versus centeng (tukang kepruk yang bekerja untuk tuan tanah). Cerita-cerita paling populer adalah Si Pitung, Si Jampang, Mat Item, dan lainnya.

Hampir seluruh kelompok lenong terdapat di wilayah Tangerang, dan dimiliki orang Tionghoa. Jakarta Barat pernah memiliki satu kelompok lenong, yaitu milik Bang Samin di Kp Rawa Bengkel. Kelompok ini bubar awal 1970-an, setelah Bang Samin meninggal dunia.

Lenong preman Betawi pinggiran tidak bisa diterima masyarakat Betawi Tengah. Prof Yasmin mengatakan penolakan disebabkan beberapa hal. Pertama, lenong preman pinggiran relatif sekuler, dengan kehidupan panjak-nya yang melanggar norma. Panjak adalah pekerja lenong; aktris, aktor, dan pemain musik gambang kromong.

Kedua, penggunaan Betawi rendahan. Orang Betawi tengah memandang sinis bahasa Betawi rendahan, yang menurut mereka tak santun. Ketiga, adegan dalam lenong preman pinggiran cenderung mengeksploitasi ‘kekerasan’, dan tidak mengajarkan etika.

Namun dalam perkembangannya ada proses, menggunakan istilah Prof Yasmin, rekacipta. Lenong preman pinggiran ditampilkan dengan dialek Betawi tengah yang lebih santun, serta disesaki muatan relijius di setiap drip, bagian dari babak dalam lenong. Misal, penggunaan kata ‘assalamualaikum’ dan tradisi cium tangan dengan orang yang lebih tua.

“Bahasa yang digunakan relatif santun, dengan huruf vocal ‘e’ di akhir kata, dan kental pengaruh Arab,” ujar Bachtiar. “Misal, ‘ane’, ‘ente’, ‘kite’, untuk menyebut saya, kamu, dan kita.”

Rawa Belong dan Kebon Jeruk, dua dari sekian banyak kampung tua Betawi, diketahui sebagai tempat berkembangnya lenong rekacipta, karena kampung itu terletak di perbatasan antara pinggir dan tengah. Secara tradisi, masyarakat kedua kampung cenderung ke pinggir, tapi motivasi keagamaan membetot mereka lebih ke tengah.

Lenong hasil rekacipta pertama bertahan sampai 1985, di bawah asuhan Umar Salbini. Tahun 1995, Bachtiar melanjutkannya dengan membentuk Sanggar Si Pitung tahun 1995.

Krisis petama lenong terjadi selama dekade 1950-1970, ketika tidak ada lagi pergelaran lenong keliling dan orang-orang kaya Betawi tengah enggan ‘nanggap’ lenong untuk memeriahkan pesta perkawinan, khitanan, atau syukuran.

Di pinggir Jakarta, kelompok-kelompok lenong pinggiran masih menerima panggilan sampai sepanjang 1970-an. Memasuki era 80-an, pertunjukan lenong di rumah masyarakat yang berpesta sangat sulit ditemukan.

Penyebabnya, naggap lenong sangat mahal akibat banyaknya sumber daya yang terlibat dalam pementasan. Sejumlah kelompok lenong mengatasi situasi ini dengan menurunkan harga ‘panggilan’, tapi tetap saja kalah bersaing dengan jenis hiburan lain; dangdut dan layar tancap.

SM Ardan, Djaduk Djajakusuma, dan Sumantri Sostrosuwondo, bernisiatif merevitaslisasi lenong dan menampilkannya di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ketiganya juga melakukan rekacipta, dengan lebih banyak menekankan aspek humor dan silat, serta memperpendek waktu pertunjukan agar masyarakat Jakarta non-Betawi bisa menikmati.

Sebelum era 70-an, pergelaran lenong di kampung-kampung sekujur pinggir Jakarta berlangsung mulai lepas Isya sampai sebelum subuh. Ada pula yang berlangsung sampai terang tanah, alias setelah matahari terbit.

Proses rekacipta tidak hanya ditampilkan di panggung, tapi juga di TVRI dan radio-radio. Dari sini muncul nama-nama beken; Nasir, Anen, mPok Nori, dan lainnya.

Rekacipta memperpanjang usia lenong. Namun, penyesuaian dengan tuntutan jaman menyebabkan lenong kehilangan format dan pakem tradisionalnya. Lenong menjadi sarat humor, dan minim –bahkan tidak sama sekali -- adegan silat.

Dalam bahasa Ninuk Kleden Probonegoro, lenong menjadi produk budaya pop, bukan lagi tradisi. Terlebih setelah Lenong Bocah dan Lenong Rumpi yang ditayangkan televisi swasta meraih sukses luar biasa. Generasi anak Betawi yang lahir tahun 90-an lebih mengenal ‘genre’ hasil rekacipta ini, ketimbang lenong tradisional.


Gagap Tradisi

Marhasan, satu-satunya orang Betawi yang mempertahankan Topeng Blantek, mengatakan seni tradisionil hanya bisa bertahan jika ada ‘keluarga’ yang setia menjaganya. ‘Teori’ lelaki yang bermukim di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, itu mungkin tidak keliru.

Kecuali Sanggar Si Pitung di Rawa Belong, komunitas lenong yang muncul di Jakarta Barat tidak lahir di masyarakat yang mewariskan lenong tradisional. Gema Beta Daya, kelompok lenong yang berdiri 2010, salah satunya.

“Gema Beta Daya adalah kependekan Gerakan Masyarakat Betawi Cinta Budaya,” ujar Tahyudin Aditya, ketua Gema Beta Daya. “Kecintaan kami terhadap budaya Betawi yang membuat kami bertekad melestarikan lenong, dan semua kesenian Betawi.”

Gema Beta Daya tidak punya pelatih lenong, tapi rutin berlatih. Waktu latihan lenong dibarengi latihan beksi, salah satu aliran dalam silat Betawi, yang diikuti warga sekitar berusia antara 11 sampai 40 tahun.

Hanya sesekali Gema Beta mengundang pelatih, karena ketiadaan biaya. Jika kebetulan ada kelompok lenong dari Tangerang sedang manggung, Tahyudin mengerahkan anak buahnya untuk nonton bareng.

“Iulah yang bisa saya lakukan,” ujar lelaki usia 44 tahun yang terdaftar sebagai calon legislatif (caleg) DPRD DKI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). “Tapi beksi, lenong, dan budaya Betawi adalah hidup saya.”

Bachtiar bukan pewaris generasi panjak yang mempelopori lenong preman hasil rekacipta. Seperti Tahyudin, ia juga merasa punya tanggung jawab moral untuk mempertahankan lenong tradisi masyarakat Betawi tengah.

“Sanggar ini saya bentuk setelah munculnya lenong-lenong masyarakat pinggiran,” ujar ayah lima anak yang banyak tampil di acara-acara Pemprov DKI Jakarta itu. “Saya juga sebel dengan banyaknya kelompok sandiwara humor yang menyebut diri lenong.”

Dibanding kelompok lain, Sanggar Si Pitung lebih dulu muncul. Mereka cepat belajar, dan menemukan pakem lenong preman, dan meneruskan jejak pendahulunya; menjadikan lenong sebagai media dakwah. Kalau pun ada yang baru, Sanggar Si Pitung tidak melulu memunculkan cerita masa lalu, tapi bertutur tentang persoalan saat ini.

“Saya ingin memperlihatkan inilah lenong,” ujar lelaki tak tamat sarjana itu. “Lenong tidak sekadar hiburan, tapi juga media dakwah Islam yang efektif.”

Menurut Bachtiar, lenong tradisi saat ini sedang mengalami krisis serius. Banyak kelompok lenong memahami bagaimana lenong dimainkan. Sebelumnya, Syaiful  mengkritik penggunaan bahasa Betawi yang campur aduk, dan kostum yang tidak sesuai cerita.

“Pakem lenong kan jelas. Lagu pembuka Pobin Kong Ji Lok, lalu aktor utama keluar dari kanan panggung, memperkenalkan diri, bermonolog, dan meninggalkan panggung dari kiri,” ujarnya. “Saat perkelahian musik dibikin cepat, dan saat jeda pemain musik memainkan lagu-lagu sayur.”

Menurut Syaiful, perlu ada satu workshop bagi semua kelompok lenong yang baru tumbuh, agar lenong tradisi terjaga. Namun, lanjutnya, penganut lenong tradisi juga tidak bisa menutup mata dari segala perubahan.

“Lenong adalah bagian dari tradisi lisan. Tradisi lisan berkembang sesuai jaman. Jadi, lenong tidak bisa menolak perkembangan di sekitarnya,” Syaiful Amri mengakhiri.

Senin, 01 Juli 2013

Gratis Itu Nggak Enak

Lewat SMS, anak saya memaksa saya hadir di pertunjukan Sendratari kolosal bertajuk Ariah di Monas.

"Pa, cepat datang. Masuknya ke arena 'lesehan'. Gratis," ujarnya.

"Gratis?" tanya saya.

"Iya. Kalo mau bayar juga ada. VVIP Rp 900 ribu. VIP Rp 500 ribu, kelas II Rp 250 ribu," ujar anak saya.

Saya akhirnya datang. Akibat tak punya uang, saya masuk ke arena lesehan, alias yang gratis.

Di dalam arena, ribuan orang telah berkumpul sejak usai Maghrib. Mereka duduk beralas karpet merah, dan berada lebih sedikit di samping panggung.

Di belakang, ada kursi untuk VVIP, VIP, dan Kelas I, dan Kelas II.

Jelang pertunjukan dimulai, petugas lapangan berteriak-teriak ke arah penonton di arena lesehan untuk meminta mereka segera duduk.

"Bapak-bapak, ibu-ibu, tolong secepatnya mencari tempat dan duduk, pertunjukan akan dimulai," demikian sejumlah petugas memberi tahu pengunjung.

Saya secepatnya mencari tempat, dan duduk. Di depan dan belakang, orang-orang masih lalu-lalang mencari tepat di bagian tengah.

Petugas berteriak lagi. "Di tengah sudah penuh. Harap segera duduk," demikian petugas itu berteriak.

Pertunjukan dimulai, tapi penonton masih terus masuk. Setelah babak pertama, arus masuk penonton mulai berkurang.

Namun yang terjadi sebaliknya. Penonton di bagian tengah berbondong-bondong keluar, bukan untuk pulang, tapi mencari jajanan.

Itu berlangsung sampai pertunjukan usai. Hampir tidak ada waktu tanpa orang-orang lalu-lalang, yang membuat saya dan sejumlah orang geleng-geleng kepala.

Jelang pertunjukan usai, saya katakan kepada anak saya; "Nonton gratis itu nggak enak ya."

Anak saya tertawa terbak-bahak. Rupanya dia di kelas II. "Kenapa Pa? Penontonnya berperilaku miskin ya?" tanyanya.

Saya katakan; "Padahal, yang masuk ke arena gratis itu -- dari tampang-tampang mereka -- orang kelas menengah ke atas. Rata-rata membawa BB, IPad, Samsung Galaxy, dan barang mewah, tapi mereka benar-benar nggak ngerti etika nonton pertunjukan."

Anak saya mengatakan; "Kan Papa pernah bilang, soal miskin bukan perkara harta, tapi perilaku."

Jadi, kata anak saya lagi, gratis itu benar-benar nggak enak. Jika ada yang mengatakan gratis itu enak, orang itu mengidap mental orang miskin. Atau dibesarkan di tengah budaya kemiskinan.

Minggu, 21 April 2013

Kartini dan Islam







Dalam suratnya ke Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis; Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa?

Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Al Quran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?


RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa partinya.


Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang -- lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

"Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh balik bertanya.

"Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku," ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; "Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; "Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Rabu, 10 April 2013

Sekeping Emas Bernama Sabah




Tahun 1962, seperti tahun-tahun sebelumnya sejak 1939, keluaraga-keluarga ahli waris Sultan Jamalul Kiram II berkumpul di Maimbung, ibu kota Kesultanan Sulu. Mereka adalah keluarga Sultan Punjungan Kiram, Datu Esmail Kiram, Dayang Dayang Piandao Kiram, Dayang Dayang Sitti Rada Kiram, Princess Tarhata Kiram, Princess Sakinur-In Kiram, Dayang Dayang Putli Jahara Kiram, Dayang Dayang Sitti Mariam Kiram and Mora Napsa.

Mereka tidak sedang melakukan pertemuan untuk membahas masa depan kesultanan, tapi membagi uang sewa Sabah yang dibayarkan North Boreno Company (NBC), yang jumlahnya 5.300 koin emas Meksiko. Itu bukan jumlah yang kecil, bukan hanya untuk ukuran saat itu, tapi juga saat ini.

Tidak ada yang tahu siapa memperoleh terbesar. Hakim McKaskie, ketua Pengadilan Tinggi Borneo Utara yang menetapkan nama-nama ahli waris Sultan Jamalul Kiram II, tidak menetapkan persentase bagian setiap orang karena tidak ada yang bisa mengklaim layak mendapat terbanyak. Tidak terkecuali Hajjah Dayang Dayang Piandao – keturunan langsung Sultan Badaruddin, yang menyewakan Sabah ke NBC tahun 1878.

Koin emas itulah yang...

Tragedi Kesultanan Sulu



Sejak naik tahta tahun 1894, Sultan Jamalul Kiram II melakukan segala cara untuk mendapat keturunan. Ia menikahi lebih 100 wanita Tausug, tapi tak satu pun memberinya anak. Pada 7 Juni 1936, Jamalul Kiram II mengembuskan nafas terakhir, meninggalkan tahta Kesultanan Sulu tanpa pewaris yang sah.

Criselda Yabes, dalam Sabah as the last gold coin, menulis kematian Jamalul Kiram II – bersamaan dengan menguatnya kolonialisme AS dan munculnya gagasan Persemakmuran Filipina – menandai akhir Kesultanan Sulu sebagai entitas politik. Hajjah Dayang Dayang Piandao – cucu Sultan Jamalul A’Lam – tidak mungkin menggantikan Jamalul Kiram II, karena tradisi Tausug tidak menghendaki perempuan sebagai pemimpin.

Jamalul Kiram II dimakamkan di Maimbung – ibu kota Kesultanan Sulu. Makamnya terabai, dihinakan pemerintah Filipina dan penduduk Katolik, karena dianggap melambangkan masa lalu yang buruk. Tahun 2010, AB Filipina membangun markas detasemen marinir di lokasi makam, dan di sisi lainnya terdapat budi daya sayur-mayur, serta sebuah pasar kecil tempat masyarakat sekitar berniaga.

Tidak ada lagi jejak Astana, atau istana, yang pernah menjadi spektrum sebuah kerajaan. Maimbung, sejak kematian Jamalul Kiram II, kehilangan martabatnya sebagai pusat budaya dan kerajaan Islam. Yang ada adalah jalan-jalan kumuh, berdebu, kotor, dan kehidupan perbanditan.


Tiga Sultan

Bukan kali pertama Kesultanan Sulu kehilangan pemimpin tanpa pewaris yang sah. Tahun 1894, Sultan Badaruddin II wafat tanpa meninggalkan pewaris. Hajjah Amina, permaisuri Sultan Badaruddin, sedang mengandung anak ketujuh ketika sang suami mengembuskan nafas terakhir.

Enam anak Sultan Badaruddin II dari rahim Hajjah Amina, laki-laki dan perempuan, meninggal akibat sakit sebelum mencapai usia dewasa. Harapan para datu, atau bangsawan, adalah Amina melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi penerus Sultan Badaruddin II.

Ruma Bichara, parlemen kesultanan yang berisi para pemuka agama dan bangsawan, sepakat mengangkat Jamalul Kiram II – adik Sultan Badaruddin II – sebagai sultan. Jamalul Kiram II tahu dirinya hanya sultan sementara. Ketika Amina melahirkan anak laki-laki, dia harus melepas tahtanya saat putra Sultan Badaruddin II dewasa.

Yang terjadi adalah Hajjah Amina melahirkan seorang bayi perempuan, dan diberi nama Dayang Dayang Piandao. Dayang Dayang adalah gelar tertinggi di dalam istana Kesultanan Sulu, dan hanya putri pertama sultan boleh menggunakannya.

Dua tahun setelah pengangkatan Jamalul Kiram sebagai sultan, Spanyol memprovokasi sejumlah datu untuk memproklamirkan Harun ar-Rashid sebagai penguasa. Harun ar-Rashid adalah keturunan langsung Alimuddin I, sultan ke-19 Sulu.

Terdapat dua kepemimpinan di Kesultanan Sulu. Spanyol relatif sukses memecah para datu, tapi gagal membenturkannya. Harun ar-Rashid tidak pernah mendapat dukungan Ruma Bichara dan mayoritas rakyat Kesultanan Sulu.

Ketika Harun ar-Rashid gagal meyakinkan rakyat Sulu bahwa dirinya adalah pewaris sah tahta kesultanan, Spanyol melepaskan dukungan. Spanyol membujuk Ar-Rashid turun tahta tahun 1894 dan diam-diam mengakui Jamalul Kiram.

Ar-Rashid tidak punya pilihan selain meninggalkan Maimbung, dan berlayar menuju Pulau Palawan. Lima tahun kemudian, tepatnya April 1899, Ar-Rashid meninggal dunia.

Jamalul Kiram II mengadopsi Dayang Dayang Piandao sebagai anak, dan memberinya nama Hajjah Dayang Dayang Piandao Kiram. Ia juga menikahi Hajjah Amina. Jamalul Kiram II berharap dari rahim Amina akan lahir seorang anak laki-laki keturunannya, yang mewariskan tahta Kesultanan Sulu.

Sebelum menikahi Hajjah Amina, Jamalul Kiram telah memiliki beberapa istri, tapi tak satu pun memberinya anak. Ia menikah lagi, beberapa kali, tapi tak juga mendapat keturunan. Jamalul Kiram II coba mempersiapkan Dayang Dayang Piandao sebagai penerusnya, tapi Ruma Bichara tidak menghendaki Kesultanan Sulu dipimpin seorang wanita.

Ketika Sultan Jamalul Kiram II mulai sakit-sakitan, kekhawatiran melanda seluruh datu dan sharif di sekujur Kesultanan Sulu. Sebagian memilih wait and see, tapi lainnya menjalankan agenda politinya sendiri.

Di Parang, pada 11 April 1936 – atau kurang dua bulan sebelum Jamalul Kiram II meninggal dunia – sejumlah datu mengangkat Sultan Bomid-din I, saudara termuda Sultan Badaruddin II, sebagai Sultan Sulu. Ruma Bichara di Maimbung, dan para datu di wilayah Kesultanan Sulu lainnya, tidak mengakui pengangkatan itu.

Kebingungan melanda istana Kesultanan Sulu pasca kematian Jamalum Kiram. Sekali lagi Ruma Bichara harus memutuskan siapa yang berhak menjadi penerus tanhta Kesultanan Sulu. Setelah melewati berbagai pertemuan,  dan idukung banyak datu, Ruma Bichara mengangkat Muwallil Wasit II – adik Jamalul Kiram II – sebagai sultan.

Ruma Bichara coba membujuk para datu dan sharif di Parang untuk membatalkan pengangkatan Sultan Bod-din I, dan menerima Muwallil Wasit II sebagai sultan. Upaya itu gagal total. Akibatnya, Muwallil Wasit II tidak bisa segera dilantik.

Pembicaraan antara para datu di Parang dan Maimbung menemui jalan buntu. Ruma Bichara di Maimbung akhirnya memutuskan untuk segera melantik Muwallil Wasit II. Namun sebelum pelatintikan berlangsung, dan enam bulan setelah Ruma Bichara melakukan pemilihan, Muwallil Wasit II terbunuh.

Pengadilan Tinggi Borneo Utara memperkeruh suasana dengan mengeluarkan dua keputusan bertolak belakang. Pertama, pada 16 Agustus 1937, pengadilan yang berkedudukan di Kinabalu itu memutuskan Hajjah Dayang Dayang Pinandao Kiram II – keturunan langsung Sultan Badaruddin II, yang menyewakan Sabah ke North Borneo British Company – sebagai pewaris pemerintahan dan seluruh properti yang pernah dikuasai almarhum Jamalul Kiram II.

Dua tahun kemudian, Pengadilan Tinggi Borneo Utara mengakui posisi Muwallil Wasit II sebagai penerus Jamalul Kiram II, dan ahli waris yang sah atas wilayah Sabah. Dua keputusan Pengadilan Tinggi Borneo Utara itu dikeluarkan oleh hakim yang sama, yaitu Hakim McKaskie.

Sejak kematian Muwallil Wasit II, Kesultanan Sulu memiliki tiga sultan. Pertama, Sultan Bomid-din I yang berkedudukan di Parang. Kedua, Amirul Umara I – suami Hajjah Dayang Dayang Piandao Kiram – yang berkedudukan di Maimbung. Ketiga, Jainal Abirin – lahir sebagai Datu Tambuyong – berkuasa di Patikul.
Bomid-din tidak didukung siapa pun. Saat Jepang datang, Amirul Umara I – dikenal pula dengan nama Amil Bangsa – diakui kekaisaran negeri Matahari Terbit. Jainal Abirin didukung Amerika Serikat (AS).

Amirul Umara dan Jainal Abirin ‘bertahta’ sampai 1950. Umara kehilangan pengaruh setelah Hajjah Dayang Dayang Piandao Kiram meninggal dunia, tak lama setelah usai Perang Dunia II. Seperti pamannya, Piandao tidak memiliki anak, dan meninggalkan keluarga yang cakar-cakaran.

Tidak ada cerita tentang Abirin sampai enam dekade setelah 1950. Kisah tentang Abirin muncul kembali, ketika Aga Muhlach – host acara travel Pinoy Explorer di TV5 Filipina – menemukan seorang pria tua di rumah jompo Patikul yang mengaku keturunan Abirin.

Ketika difilmkan, lelaki yang tak disebutkan namanya itu duduk di depan rumah jompo tertutup pohon kepala di pinggir pantai. Ia menjadi history teller tentang nasib tragis Kesultanan Sulu, pemberontakan dan konflik bersenjata.

Namun suaranya tidak didengar. Di sekelilingnya, anggota keluarga Kiram yang berkeliaran di sekujur Kepulauan Sulu, Palawan, dan Tawi Tawi, mendirikan ‘kantor’ perkrutan tentara, menenggelamkan anak-anak muda Tausug romantisme masa lalu, dan menanamkan obsesi akan kemungkinan membangkitkan kembali Kesultanan Sulu.


Sultan Palsu

Setelah Umara dan Abirin lengser, Bomid-din menjadi satu-satunya penguasa Kesultanan Sulu. Namun itu tidka berlangsung lama. Para datu dan sharif di Maimbung tetap tidak mengakui Bomid-din, dan mengangkat Moh. Esmail E. Kiram I  -- Esmail E Kiram I adalah putra tertua Muwallil Wasit II  --sebagai sultan.

Sejak kematian Jamalul Kiram II, pemerintah Filipina – sebagai penerus kekuasaan AS – sultan-sultan berikut. Situasi berubah setelah 1950. Manila, suka atau tidak, harus mengakui bahwa Kesultanan Sulu masih ada.

Terjadi pertarungan antara Bomid-din dan Esmail E Kiram I, untuk mendapatkan pengakuan Manila. Esmail E Kiram I memenangkannya. Pada 12 September 1962, Presiden Diosdado Macapagal secara resmi memberikan kekuasaan atas Kesultanan Sulu kepada Esmail E Kiram I.

Sepuluh tahun kemudian, President Ferdinand Marcos mengeluarkan dokumen yang menyatakan Manila mengakui eksistensi Kesultanan Sulu, pemerintahan Kesultanan Sulu, dan Sultan Moh. Esmail E. Kiram sebagai penerus Raja Muda Muwallil Wasit.

Tahun 1974, sepeninggal Esmail E Kiram I, Ruma Bichara mengangkat Moh. Mahakuttah A. Kiram. Presiden Marcos mengeluarkaan Momorandum Order 427 tahun 1974, yang menyatakan Mahakuttah adalah pewaris sah Kesultanan Sulu dan pemerintah berkewajiban mendukung penobatannya pada 24 Mei 1974. 

Pada saat penobatan, Datu Muedzul Lail Tan Kiram – yang baru berusia 8 tahun – duduk disamping Mahakuttah dan menjadi Rajah Mudah dari Sulu. Mahakuttah menjadi sultan Sulu terakhir yang diakui resmi oleh Ruma Bichara dan Manila, dan berkuasa sampai 1986.

Sebelum kematian Mahakuttah A Kiram, Moh. Punjungan Kiram – adik bungsu Esmail E Kiram I – yang menjadi crown prince Sultan Esmail E Kiram I—mengklaim diri sebagai sultan pada 1980. Padahal, ia hanya crown prince. Jika sultan wafat dan putra mahkota belum dewasa, Punjungan Kiram dinobatkan menjadi sultan untuk masa transisi.

Punjungan sempat mengasingkan diri ke Malaysia. Ketika kembali, ia menantang Mahakuttah A Kiram memperebutkan tahta. Punjungan Kiram gagal.

Dari Keluarga Abirin, muncul Aguimuddin Abirin yang menggunakan gelar sultan antara 1980 sampai 1983. Persoalan menjadi pelik, dan benar-benar membingungkan, karena Jamalul Kiram III – putra tertua Punjungan Kiram – ternyata pernah dilantik sebagai sultan sementara antara 1974 sampai 1982, tapi tak diakui Manila.

Tahun 1983, Jamalul Kiram III ditunjuk sebagai sultan tapi baru dilantik tahun 1986. Pada tahun yang sama Muedzul Lail Tan Kiram, pewaris tahta ayahnya, juga dilantik sebagai sultan. Jamalul Kiram ‘berkuasa’ sampai 1990, Lail Tal Kiram disebut sultan oleh pendukungnya sampai 2012.

Di luar ‘istana’-nya, mereka yang mengklaim diri sebagai sultan bermunculan. Mohammad Akijal Atti mengaku sultan antara 1990 sampai 1999. Ismael Kiram II, putra kedua Punjungan Kiram dan adik Jamalul Kiram III, mengaku sultan sejak 1999 sampai saat ini.

Tahun 2004, Muedzul Lail Tan Kiram menunjuk Fuad Kiram sebagai Sultan Sabah. Saat diangkat, Fuad Kiram menandatangani dokumen pengakuan yang berbunyi dirinya mengakui Muedzul Lail Tan Kiram sebagai satu-satunya penguasa Kesultanan Sulu dan Sabah.

Dua tahun kemudian, Lail Tan Kiram mencabut pengangkatan atas diri Fuad Kiram. Lail Tan Kiram menemukan bukti Fuad Kiram mengkorup gelar, dengan menyebut diri sultan Sulu dan Sabah. Fuad tidak peduli. Dia masih menggunakan gelar itu sampai saat ini.

Entah berapa sultan lagi yang akan muncul di Kesultanan Sulu dalam beberapa dekade mendatang. Yang pasti, setelah Jamalul Kiram II menyerahkan negaranya kepada AS lewat Carpenter Agreement 1915, Kesultanan Sulu tidak ubahnya pepesan kosong.